Jumat, 04 Juli 2025

Pamer Miras di Medsos Adalah Normalisasi Miras Bagi Generasi Masa Depan yang Terstruktur


Tangkapan Layar Video IG MALUKUBICARA


Media sosial adalah ruang publik. Setiap unggahan, foto, atau siaran langsung yang kita bagikan bukan hanya konsumsi pribadi, tetapi juga menjadi tontonan dan referensi bagi banyak orang termasuk anak-anak dan remaja yang sedang membentuk identitas dan pola pikir. Maka, ketika seseorang memamerkan minuman keras (miras) di media sosial, itu bukan hanya sekadar gaya hidup pribadi, tapi sebuah proses normalisasi miras yang diam-diam, terstruktur, dan sangat berbahaya bagi generasi masa depan.

video : ⬇️⬇️⬇️



Bijaksanalah Menggunakan Medsos

Tidak sedikit kita jumpai bapak-bapak yang memposting dirinya sedang menenggak miras, atau kakak-kakak muda yang live pesta miras bersama teman-temannya. Mereka mungkin menganggapnya hal biasa, sekadar hiburan atau gaya hidup. Tapi mereka lupa, ada mata-mata kecil yang ikut menonton: anak-anak. Mereka belum punya daya kritis dan batas nilai yang kuat. Apa yang mereka lihat, bisa menjadi apa yang mereka anggap “biasa” dan “boleh”. Di sinilah bahayanya.


Kenapa Orang Suka Pamer Miras di Medsos?

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kebiasaan ini:

1. Ingin eksis dan terlihat keren.

Dalam budaya populer, miras sering dianggap simbol keberanian, kebebasan, atau pergaulan.

2. Validasi sosial.

Beberapa orang merasa diakui atau “gaul” ketika pesta miras mereka mendapat like, komentar, atau pujian dari teman.

3. Kurangnya kesadaran publik.

Banyak orang belum sadar bahwa medsos adalah ruang yang dilihat lintas usia, termasuk anak-anak dan remaja.

4. Pola pikir permisif .

Miras dianggap hal biasa, karena lingkungan sekitar juga melakukannya tanpa konsekuensi nyata.


Apa Kata Psikologi?

Menurut psikologi sosial, orang yang suka memamerkan pesta miras di media sosial sering kali mengalami kebutuhan validasi eksternal yang tinggi. Mereka ingin dianggap bagian dari kelompok sosial tertentu. Sering kali, tindakan ini juga berhubungan dengan impulsivitas, kecanduan pengakuan, atau rendahnya kesadaran sosial. Bagi anak-anak atau remaja yang melihatnya, konten seperti ini bisa mempercepat penerimaan awal terhadap konsumsi alkohol, karena terlihat "normal" dan menyenangkan.


Dampak Normalisasi Miras Lewat Medsos

Menurunnya sensitivitas terhadap bahaya miras: Anak-anak tidak lagi melihat miras sebagai hal yang berisiko, melainkan sesuatu yang lumrah.

1. Peningkatan eksperimen dini.

Anak remaja lebih cepat mencoba miras, karena ingin seperti figur yang mereka lihat.

2. Pembentukan budaya permisif.

Lama-lama masyarakat tidak lagi menganggap pesta miras sebagai masalah sosial.

3. Pergeseran nilai dan moral.

Yang dulunya tabu, kini jadi tren. Yang dulunya disembunyikan, kini dipamerkan.


Bagaimana Cara Mengantisipasi?

1. Edukasi literasi digital.

Ajarkan bahwa medsos bukan tempat sembarangan. Semua yang diunggah, bisa berdampak sosial.

2. Pemahaman bahaya miras sejak dini.

Sekolah dan rumah harus jadi tempat pendidikan nilai dan kesehatan yang kuat.

3. Kontrol dan pengawasan konten oleh platform.

Perlu dorongan regulasi agar konten miras tidak bebas beredar di ruang terbuka.

4. Sanksi sosial.

Masyarakat bisa membangun kesadaran dengan tidak mendukung atau menyukai konten seperti itu.


Peran Orang Tua dan Kesadaran Masyarakat

Orang tua memegang peran kunci. Jangan lepas tangan terhadap apa yang ditonton anak-anak. Awasi, dampingi, dan ajak diskusi tentang konten yang mereka temui. Di sisi lain, masyarakat luas harus membangun budaya baru, budaya peduli terhadap dampak konten digital. Jangan biarkan media sosial menjadi saluran rusaknya nilai generasi hanya karena kita abai.


Kesimpulannya: 

Pamer miras di media sosial bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk penyebaran gaya hidup yang salah kepada publik luas, termasuk anak-anak. Jika tidak ada kesadaran bersama, maka kita sedang membiarkan generasi masa depan tumbuh dengan pandangan yang salah tentang kebebasan dan pergaulan. Bijaksanalah menggunakan media sosial, karena satu unggahan bisa berdampak panjang.


N.A.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar