Kamis, 11 Desember 2025

Malam Penghiburan: Kita Menghibur Siapa? Mereka yang Berduka, atau Kita Sedang Menghibur Diri Kita Sendiri?

Ilustrasi Malam Penghiburan

Malam penghiburan lahir dari sebuah nilai luhur: hadir bersama keluarga yang berduka, menyalakan lilin pengharapan di tengah gelap kesedihan, dan menghadirkan kekuatan lewat doa serta nyanyian rohani. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi wujud solidaritas sosial tanda bahwa duka tidak pernah ditanggung sendirian.

Namun belakangan, makna itu perlahan terkikis. Malam penghiburan yang seharusnya menjadi ruang kidung pujian dengan rasa dan empati, justru berubah menjadi panggung keramaian yang tidak pada tempatnya. Di satu sisi ada jenazah yang terbujur kaku, ada isak tangis keluarga yang kehilangan, tetapi di sisi lain terdengar tawa yang pecah, teriakan yang membahana, serta dentingan gelas miras yang menggeser kesakralan suasana. Apakah ini masih penghiburan, atau berubah menjadi hiburan?

Pertanyaan besar pun muncul: malam penghiburan ini sebenarnya untuk siapa?
Apakah kita benar-benar hadir untuk menguatkan mereka yang sedang dilanda duka?
Atau jangan-jangan kita hanya datang untuk menghibur diri sendiri menjadikan duka orang lain sebagai latar sebuah pertemuan sosial yang tak lagi menghargai suasana?

Jika kehadiran kita berubah menjadi gangguan, jika suara tawa menenggelamkan suara tangis, jika miras lebih dominan daripada doa, maka sesungguhnya kita telah mengkhianati niat mulia tradisi itu. Malam penghiburan kehilangan rohnya bukan karena tradisinya salah, melainkan karena manusianya lupa tujuan.

Sudah saatnya kita kembali bertanya pada diri sendiri sebelum melangkah ke rumah duka:
Apakah saya datang membawa penghiburan, atau justru menambah beban?
Apakah kehadiran saya menenangkan, atau malah mengusik?

Karena malam penghiburan sejatinya bukan tentang kita, tetapi tentang mereka yang sedang kehilangan. Dan jika makna itu tidak lagi menjadi dasar, maka tradisi ini hanya akan menjadi ritual kosong yang kehilangan nilai, rasa, dan hormat.

Malam penghiburan seharusnya menjadi pelukan, bukan pesta.
Menjadi doa, bukan teriakan orang mabuk.
Menjadi penguatan, bukan pelarian.

Sebab duka adalah sesuatu yang suci dan ia layak dihormati, bukan diganggu.

N.A.M.