![]() |
| N.A.M. |
Aku masih ingat hari-hari ketika hidup kami berubah drastis. Setelah kerusuhan pecah, kami sekeluarga terpaksa meninggalkan segalanya dan mengungsi ke Papua. Tidak ada yang mudah setelah beberapa lama di Papua kami kembali ke kampung halaman bapakku dengan tangan kosong, hanya membawa harapan tipis dan semangat yang nyaris padam.
Ekonomi keluarga kami jatuh. Ayah tidak memiliki pekerjaan tetap, dan kehidupan terasa seperti perjuangan tanpa akhir. Aku dan adikku masih sekolah, tapi kami tahu waktu kami tidak sepenuhnya milik kami. Setiap hari adalah perjuangan antara pendidikan dan kebutuhan perut.
Kami mulai berjualan hasil kebun berupa sayur, buah, singkong, ubi jalar, kelapa apapun yang bisa kami bawa. Bukan di pasar, tapi dari rumah ke rumah. Kami berjalan kaki dari wilayah UN Kota Tual hingga ke Pasar Tual. Jam 3 Subuh kami sudah harus bangun, persipakan barangan jualan kami, agar tidak ketinggalan mobil dari kampung ke pasar langgur. Perjalanan kami dimulai dari pasar Langgur, naik angkot, turun di SKB, dan dari situ petualangan sesungguhnya dimulai: mengetuk pintu demi pintu, menawarkan hasil bumi yang kami bawa. Kadang dagangan habis, kadang tidak. Jika tidak laku, kami tukarkan dengan nasi bungkus, atau terpaksa menjual semurah mungkin agar tidak pulang dengan tangan hampa.
Selama perjalanan itu, kami tidak hanya membawa keranjang dan karung berisi dagangan, tapi juga beban penolakan, rasa lelah, dan cerita-cerita pahit. Kami pernah diusir, ditipu, dan diremehkan. Tapi hari-hari itu, tanpa kami sadari, sedang menempa kami. Membentuk karakter. Mengajarkan kami arti keteguhan, kesabaran, dan rasa syukur atas hal-hal kecil.
Kebetulan saya baru saja membaca sebuah artikel tentang teori resiliensi dalam psikologi, bahwa seseorang yang mengalami tekanan dan tantangan berat sejak dini seperti kemiskinan, penolakan sosial, dan tanggung jawab dewasa di usia muda bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara mental, bila didampingi oleh nilai-nilai positif dan dukungan emosional. Aku dan adikku mengalami kerasnya kehidupan, tapi kami tetap saling menguatkan.
Pengalaman kami menjadi “guru kehidupan” yang tak ternilai. Kami belajar mengelola emosi ketika ditolak, meredam kemarahan ketika ditipu, dan memahami bahwa tidak semua orang akan bersikap adil. Proses inilah yang akhirnya menciptakan daya tahan mental (mental toughness), sekaligus empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain.
Karena sudah terlalu sering berada di lingkungan yang penuh ketegangan dan kerusuhan, secara psikologis, tubuh dan pikiran kami membentuk respons perlindungan: menjauhi konflik, menghindari kekerasan, dan mendambakan kedamaian. Kami tahu persis rasanya hidup dalam ketakutan dan tekanan, dan karena itu, kami tumbuh menjadi orang-orang yang cinta harmoni dan tidak suka pada hal-hal yang rusuh atau penuh kebencian.
Kini ketika aku melihat ke belakang, aku tidak lagi melihat masa kecil yang suram, tapi masa-masa pembentukan karakter. Dari jalanan, kami belajar tentang dunia. Dari dagangan yang kadang tidak laku, kami belajar tentang kegigihan. Dan dari semua penolakan, kami belajar menjadi manusia yang tangguh—bukan karena tak pernah jatuh, tapi karena tahu cara bangkit dengan kepala tegak.
( N.A.M)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar