Sabtu, 07 Juni 2025

Falsafah Pisang: Hidup yang Memberi, Mati yang Mengizinkan


Di tengah rimbun hutan tropis, berdiri tegak sebatang pohon pisang. Ia tidak menuntut banyak, tidak memiliki kayu keras, tidak juga hidup ratusan tahun. Tapi satu hal yang tak terbantahkan: ia tidak pernah mati sebelum berbuah. Ia bersabar dalam sunyi, tumbuh dalam diam, lalu saat waktunya tiba, ia memberikan buah terbaik yang bisa ia hasilkan.

Namun yang paling agung dari pohon pisang bukanlah buahnya, melainkan kerelaannya untuk mati setelah berbuah.

Ia mundur perlahan, membusuk dalam tanah, memberi ruang dan makanan bagi tunas-tunas baru yang tumbuh di sekelilingnya.

Ia tahu, kehidupan bukan miliknya sendiri. Ia sadar, warisan sejati bukan tentang kekuasaan yang lama digenggam, melainkan kesediaan untuk menyerahkannya pada generasi yang datang.

Sayangnya, manusia tak selalu belajar dari pisang.

Banyak yang sudah “berbuah” namun enggan pergi.

Masih ingin duduk di singgasana, masih haus tepuk tangan, hingga menjadi bayang-bayang yang menutup cahaya untuk tunas muda. Bahkan, ada yang dengan tega menebang tunas itu, takut disaingi oleh kekuatan baru.

Mereka lupa: tanpa memberi jalan, tunas tak akan tumbuh. Dan tanpa tunas, tak ada lagi yang meneruskan kehidupan.

Hidup yang baik bukan sekadar berbunga dan berbuah, tapi juga berani mundur agar kehidupan terus berlanjut. 

Karena keabadian bukan dalam tinggal, tapi dalam memberi ruang untuk yang lahir setelah kita.

N.A.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar