Senin, 27 April 2026

Duta Pendidikan atau Duta Pencitraan?


Penunjukan Teddy Indra Wijaya sebagai Duta Sekolah Rakyat mungkin terlihat mengharukan di permukaan foto yang hangat, narasi yang menyentuh, dan klaim bahwa ini adalah “permintaan guru dan kepala sekolah.” Namun, jika ditarik ke ruang berpikir akademik, keputusan ini justru menyisakan tanda tanya besar, sejak kapan dunia pendidikan menentukan figur panutan bukan dari kapasitas, tetapi dari posisi?

Pernyataan Saifullah Yusuf yang menyebut bahwa penunjukan ini lahir dari aspirasi guru dan kepala sekolah terdengar seperti legitimasi yang rapi, tetapi problematik. Dalam praktik kebijakan publik, klaim semacam ini sering kali menjadi tameng, bukan bukti. Pertanyaannya sederhana: apakah benar ada proses seleksi terbuka? Apakah suara guru dikumpulkan secara sistematis? Atau ini sekadar narasi untuk memperhalus keputusan yang sudah ditentukan sebelumnya?

Masalah utamanya bukan pada sosoknya, melainkan pada logika yang dibangun. Ketika jabatan bisa langsung dikonversi menjadi otoritas moral di bidang pendidikan, maka kita sedang mengajarkan satu hal yang keliru kepada generasi muda bahwa simbol lebih penting daripada substansi. Padahal, dalam ilmu pendidikan, figur panutan (role model) tidak lahir dari jabatan, tetapi dari rekam jejak, konsistensi, dan kontribusi nyata terhadap dunia belajar.


Jika standar ini terus dibiarkan longgar, maka ke depan kita akan melihat paradoks yang semakin terang orang-orang yang tidak pernah bergelut dengan ruang kelas, tidak memahami dinamika peserta didik, bahkan tidak memiliki kontribusi nyata dalam pendidikan, justru menjadi wajah dari pendidikan itu sendiri. Ini bukan sekadar ironi, ini adalah bentuk pengaburan nilai.

Solusinya sebenarnya tidak rumit, hanya butuh keberanian untuk kembali pada akal sehat. Penunjukan figur pendidikan harus berbasis kompetensi dan kontribusi, bukan popularitas atau jabatan. Guru-guru inspiratif di pelosok, pegiat literasi yang bekerja dalam sunyi, atau inovator pendidikan lokal justru lebih layak diangkat menjadi duta. Mereka mungkin tidak punya panggung besar, tetapi mereka punya dampak nyata.

Pada akhirnya, pendidikan tidak membutuhkan lebih banyak simbol. Pendidikan membutuhkan keteladanan yang otentik. Sebab jika kita terus merayakan pencitraan sebagai prestasi, maka yang kita didik bukan generasi pembelajar, melainkan generasi yang pandai tampil tanpa isi.

N.A.M.

#Tetapwaras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar