Pojok Opini.
Viral di medsos, siswa SMA tidak tahu perkalian dasar. Di video berbeda ada sekelompok siswa SMA kesulitan menyebutkan nama-nama negara di eropa, Bahkan ada yang menjawab "Garut".
Fenomena menurunnya kemampuan dasar siswa dalam perkalian serta wawasan umum seperti geografi memang mengkhawatirkan. Jika dibandingkan dengan generasi 80-90an, ada perbedaan yang cukup mencolok, terutama dalam hal pemahaman dasar dan pengetahuan umum. Generasi sebelumnya, meskipun akses informasi lebih terbatas dibandingkan sekarang, cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik dalam konsep-konsep dasar.
1. Perbandingan dengan Generasi 80-90an.
Pada era 80-90an, pendidikan lebih menekankan pada penghafalan dan pemahaman konsep secara langsung tanpa tergantung pada teknologi. Siswa terbiasa melakukan perhitungan manual karena akses ke kalkulator atau internet sangat terbatas. Selain itu, bahan bacaan seperti buku atlas atau ensiklopedia menjadi sumber utama informasi, sehingga wawasan tentang dunia luar lebih kuat meskipun tidak secepat akses internet saat ini.
Sebaliknya, generasi sekarang hidup di era serba digital, di mana informasi bisa diakses dalam hitungan detik. Namun, justru kemudahan ini membuat mereka lebih bergantung pada teknologi daripada mengingat atau memahami sesuatu secara mendalam. Jika mereka ingin mencari informasi tentang suatu negara, misalnya, mereka lebih memilih mencarinya di Google daripada menyimpannya dalam ingatan.
2. Penyebab Utama: Sistem Pendidikan, Siswa, atau Keluarga?
Fenomena ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor utama:
1. Sistem Pendidikan yang Kurang Fokus pada Pemahaman Dasar.
Kurikulum yang sering berubah dan kecenderungan lebih menekankan hafalan tanpa memahami konsep bisa menjadi penyebab utama. Selain itu, metode pembelajaran yang lebih berbasis ujian dan nilai membuat siswa lebih fokus pada hasil akhir daripada proses belajar itu sendiri.
2. Kemampuan Siswa yang Terbentuk dari Kebiasaan Digital.
Siswa saat ini tumbuh dalam era digital di mana jawaban bisa didapatkan dengan cepat. Akibatnya, kebiasaan berpikir kritis dan pemahaman mendalam jadi menurun. Mereka lebih terbiasa dengan informasi instan, sehingga kurang melatih daya ingat dan logika.
3. Peran Keluarga yang Semakin Berkurang dalam Pendidikan Dasar.
Dulu, orang tua lebih aktif dalam mendampingi anak belajar dan mendidik secara langsung di rumah. Namun, sekarang banyak orang tua yang lebih sibuk dengan pekerjaan atau menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Akibatnya, pembiasaan dasar seperti berhitung atau membaca atlas tidak lagi menjadi kebiasaan sejak kecil.
![]() |
| siswa mengikuti ujian praktek Komputer diawasi oleh guru. |
Jika generasi sebelumnya memiliki keterbatasan akses tetapi memiliki pemahaman dasar yang lebih kuat, generasi sekarang justru memiliki akses tanpa batas namun mengalami penurunan dalam kemampuan mendasar. Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan pola asuh perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan fondasi dasar.
Solusinya, pendidikan harus lebih menekankan pemahaman konsep daripada sekadar hafalan, teknologi harus digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai ketergantungan, dan peran keluarga dalam membimbing anak di luar sekolah harus kembali diperkuat. Dengan begitu, generasi masa depan bisa lebih cerdas secara fundamental, bukan hanya sekadar “cerdas instan” karena bantuan teknologi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar